Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
16.44.00
PELUANG BISNIS Bersama Ust.Yusuf Mansur
Written By SEDI SUGANDA on Selasa, 28 Januari 2014 | 16.44.00
PELUANG BISNIS Bersama Ust.Yusuf Mansur

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk Anda,
Halo calon mitra VSI, apakah Anda tahu...9 Hal yang bisa anda lakukan setelah menjadi Member VSI? Silahkan simak infonya dibawah ini:
1. Bisnis Loket All Payment VERITRA-PAY dapat melakukan pembayaran online tanpa ke loket atau Bank.
2. Mengisi pulsa elektronik kapan saja dimana saja langsung dari HP Anda...BAYANGKAN hidup tanpa perlu lagi ke konter!
3. Mengisi pulsa dengan HARGA paling MURAH dibanding harga konter.
4. Mengisi pulsa HP rekan, kenalan atau relasi atau pengguna HP lain di seluruh Indonesia...Bayangkan Anda SELALU menerima UNTUNG setiap kali ada pengguna HP yang kehabisan PULSA!
5. Mengisi pulsa Token Listrik PLN di rumah Anda ataupun rumah tetangga Anda...Bayangkan Anda bisa dengan mudah kapan saja mengisi pulsa Token Listrik PLN rumah Anda.
6. Membayar TAGIHAN Listrik PLN di rumah Anda ataupun rumah tetangga Anda....Bayangkan Anda tidak perlu lagi ANTRI untuk membayar tagihan Listrik PLN rumah Anda!
7. membayar TAGIHAN telepon TELKOM rumah Anda...Menyenangkan bukan, Anda bisa membayar tagihan dari HP ANda?
8. Selain itu bisa juga untuk membayar TAGIHAN Speedy dan lainnya...(tiket pesawat, kereta api, bis, travel , konser, voucher main game, dll).
9. Mendapatkan produk Suplemen Herbal Habs-Pro senilai Rp.270.000 dan dapat menjadi distributornya.
Ckckckck...BUKAN MAIN...Luar biasa bukan?
Jadi tunggu apalagi? SEGERA bergabung bersama kami "The Best Team" VSI. Silakan ikuti panduan cara upgrade melalui halaman dibawah ini:
http://klikvsi-yusufmansur.com/?reg=sedisuganda
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk Anda,
Halo calon mitra VSI, apakah Anda tahu...9 Hal yang bisa anda lakukan setelah menjadi Member VSI? Silahkan simak infonya dibawah ini:
1. Bisnis Loket All Payment VERITRA-PAY dapat melakukan pembayaran online tanpa ke loket atau Bank.
2. Mengisi pulsa elektronik kapan saja dimana saja langsung dari HP Anda...BAYANGKAN hidup tanpa perlu lagi ke konter!
3. Mengisi pulsa dengan HARGA paling MURAH dibanding harga konter.
4. Mengisi pulsa HP rekan, kenalan atau relasi atau pengguna HP lain di seluruh Indonesia...Bayangkan Anda SELALU menerima UNTUNG setiap kali ada pengguna HP yang kehabisan PULSA!
5. Mengisi pulsa Token Listrik PLN di rumah Anda ataupun rumah tetangga Anda...Bayangkan Anda bisa dengan mudah kapan saja mengisi pulsa Token Listrik PLN rumah Anda.
6. Membayar TAGIHAN Listrik PLN di rumah Anda ataupun rumah tetangga Anda....Bayangkan Anda tidak perlu lagi ANTRI untuk membayar tagihan Listrik PLN rumah Anda!
7. membayar TAGIHAN telepon TELKOM rumah Anda...Menyenangkan bukan, Anda bisa membayar tagihan dari HP ANda?
8. Selain itu bisa juga untuk membayar TAGIHAN Speedy dan lainnya...(tiket pesawat, kereta api, bis, travel , konser, voucher main game, dll).
9. Mendapatkan produk Suplemen Herbal Habs-Pro senilai Rp.270.000 dan dapat menjadi distributornya.
Ckckckck...BUKAN MAIN...Luar biasa bukan?
Jadi tunggu apalagi? SEGERA bergabung bersama kami "The Best Team" VSI. Silakan ikuti panduan cara upgrade melalui halaman dibawah ini:
http://klikvsi-yusufmansur.com/?reg=sedisuganda
16.21.00
Ustazah Mama Dedeh Bakal Meriahkan HUT Kuansing
Written By SEDI SUGANDA on Rabu, 24 April 2013 | 16.21.00
TELUK KUANTAN - Panpel HUT Kuansing ke-13 bakal menghadirkan Ustazah Mama Dedeh. Dai wanita kondang yang sering nampil di TV tersebut akan hadir di acara Tablik Akbar di Mesjid Agung Kuansing 6 Oktober mendatang.
Kehadiran Mama Dedeh ini dibenarkan oleh Sekda Kuansing Drs H Muharman, M.Pd diruang kerjanya saat ditanya soal acara yang bakal dilaksanakan diruang kerjanya, Kamis ( 4/10 ) siang di Teluk Kuantan.
“ Salah satu acara yaitu Kita menghadirkan Dai Wanita Mama Dedeh, diharapkan dari Tausyiah yang nantinya diberikan beliau dapat bermanfaat bagi warga Kuansing, karena itu mari Kita manfaatkan ajang tablik akbar ini dengan sebaik-baiknya,”ujar Muharman.
Selain acara tablik akbar ujar Muharman, acara lainnya berupa gerak jalan santai massal pada hari Sabtu ( 6/10 ) pagi. “ Jadi kalau gerak jalan santai dilaksanakan pagi hari, sementara tablik akbar Mama Dedeh dilaksanakan siang hari,”ujar Muharman.
Selain itu lanjut Muharman, acara dalam rangka HUT Kuansing ke-13 berupa pelaksanaan upacara yang akan dilaksanakan tanggal 12 Oktober pagi, dan dilanjutkan dengan siding paripurna istimewa DPRD Kuansing.
Sementara itu sempena HUT Kuansing ke-13 Muharman juga mengimbau masyarakat agar dapat mengikuti acara demi acara yang bakal dilaksanakan, karena semua kegiatan yang dilaksanakan ditujukan untuk warga masyarakat banyak.
Label:
Breaking News,
Unik
12.10.00
HUJAN lebat yang turun sejak Kamis (14/3) malam hingga Jumat (15/3) dinihari, mengakibatkan banjir bandang di dua kabupaten bertetangga, Kuantan Singingi (Kuansing) dan Indragiri Hulu (Inhu). Belum ada laporan korban jiwa, namun banjir merendam 120 rumah dan sempat memutus jalan lintas Kuansing (Riau) - Kiliranjao (Sumatera Barat).
Di Kuansing, banjir bandang tersebut merendam Kelurahan Muara Lembu, Desa Kebun Lado, Kecamatan Singingi, Kuansing. Banjir berlangsung lebih kurang enam jam sehingga juga melumpuhkan jalan nasional di perbatasan Desa Logas dengan Kelurahan Muara Lembu, sejak pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB. Sementara banjir bandang di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Inhu dan sekitarnya membuat nyaris membuat rubuh jembatan di atas Sungai Sisirih di Desa Usul.
Banjir yang menjadikan putusnya jalan lintas provinsi di Kuansing itu ketinggiannya mencapai 1 meter. Akibatnya, kendaraan dari berbagai jenis yang akan melintas terpaksa berhenti menunggu air surut. Kendaraan roda empat atau lebih baru bisa melintas sekitar pukul 09.30 WIB. Namun kondisi itu belum aman bagi kendaraan roda dua.
‘’Masih tinggi bang, mobil bisa lewat, tapi sepeda motor masih sulit, tapi kalau berani lewat juga,’’ kata salah seorang pengendara yang tersangkut di ruas jalan itu.
Datangnya banjir bandang secara tiba-tiba ini tidak disangka warga. Beruntung arus air tidak begitu deras sehingga hanya merendam rumah, tidak sampai menghanyutkan.
Zulfitri (39), warga yang rumahnya terendam setinggi dua meter menyebutkan, baru pertama kali terjadi banjir yang sebesar ini terjadi di Singingi. Ini akibat air dari Sungai Lembu dari arah desa Logas ini meluap.
Ayah dua anak ini menuturkan, puncak banjir bandang ini terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu rumahnya yang berada di dekat Sungai Lembu kemasukan air hingga lebih kurang 2 meter. Akibatnya, ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya. ‘’TV dan peralatan lainnya terendam banjir sekaligus. Apalagi yang mau kita selamatkan, semuanya sudah terendam,’’ ujarnya.
Ia menceritakan, banjir kali ini datang dengan mengeluarkan suara yang keras. Saat itu, ia sedang tidur bersama anak dan istrinya yang tengah hamil tua. Air masuk begitu cepat dan saat itu dirinya hanya berusaha untuk menyelamatkan istrinya dan kedua anaknya ke tempat yang lebih aman. Pada saat berusaha menyelamatkan orang-orang yang disayanginya itu, ia harus dihadapi dengan jalan lintas provinsi yang juga terendam setinggi 1 meter. Sehingga ia memilih menyelamatkan anak dan istrinya ke salah satu rumah makan yang tidak jauh dari rumahnya.
‘’Tak ada selamatkan apa-apa. Dan yang terpenting, bagaimana anak dan istri selamat. Ya, lebih kurang 2 jamlah air setinggi rata-rata 1 meter menggenangi jalan hingga membuat kendaraan tertahan, dari pukul 05.00 pagi,’’ ujarnya.
Zulfitri mengaku, hanya pakaian di badan yang bisa ia bawa bersama anak dan istrinya itu. Kini, semua pakaian dan peralatan lainnya sudah basah dan tidak tidak tahu bagaimana bentuk isi yang ada di dalam rumahnya. ‘’Sekarang air memang sudah mulai surut, tapi masih tinggi,’’ katanya.
Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Kopindag) Kuansing H Tarmis SPd MH yang tinggal di Kebun Lado dan setiap pagi melintas di jalan ini menuju Teluk Kuantan mengaku sempat tertahan selama dua jam.
‘’Tak bisa lewat, banjir sangat tinggi yang menggenang di jalan nasional di Muara Lembu. Mobil seperti Kijang Innova, sedan, Avanza tak bisa lewat, baru bisa lewat hampir pukul 09.00. Ini baru pertama kali banjir terjadi di sini,’’ kata Tarmis yang menghubungi Riau Pos, kemarin.
Camat Singingi, Zulkaneri SSos MSi yang dihubungi Riau Pos juga mengaku terkejut. Ia tidak mengira banjir akan terjadi cukup besar. Ia menduga banjir ini akibat rusaknya lingkungan. ‘’Inilah akibatnya kalau lingkungan sudah rusak,’’ katanya.
Informasi yang diterima Riau Pos, banjir ini melanda dua desa dan merendam sekitar 120 rumah. 65 rumah di Kelurahan Muara Lembu dan 55 unit rumah di Kebun Lado. Saat ini, warga yang menjadi korban banjir ini sudah disalurkan bantuan berupa mie instan, sarden dan susu. Hingga pukul 15.00 WIB, banjir sudah surut namun air sungai masih meluap, tapi tidak lagi merendam rumah warga.
‘’Bantuan yang disalurkan terdiri dari 55 kotak mie instan untuk Desa Kebun Lado dan 65 kotak mie instan untuk warga kelurahan Muara Lembu, ditambah 4 kotak Sarden,’’ ujar Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kuansing, Nopriman ST MT.
Sebelumnya, hujan mengakibatkan meluapnya Sungai Ili di Desa Koto Inuman namun tidak sampia merendam rumah warga.
Banjir Bandang Hantam Kuansing-Inhu
Di Kuansing, banjir bandang tersebut merendam Kelurahan Muara Lembu, Desa Kebun Lado, Kecamatan Singingi, Kuansing. Banjir berlangsung lebih kurang enam jam sehingga juga melumpuhkan jalan nasional di perbatasan Desa Logas dengan Kelurahan Muara Lembu, sejak pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB. Sementara banjir bandang di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Inhu dan sekitarnya membuat nyaris membuat rubuh jembatan di atas Sungai Sisirih di Desa Usul.
Banjir yang menjadikan putusnya jalan lintas provinsi di Kuansing itu ketinggiannya mencapai 1 meter. Akibatnya, kendaraan dari berbagai jenis yang akan melintas terpaksa berhenti menunggu air surut. Kendaraan roda empat atau lebih baru bisa melintas sekitar pukul 09.30 WIB. Namun kondisi itu belum aman bagi kendaraan roda dua.
‘’Masih tinggi bang, mobil bisa lewat, tapi sepeda motor masih sulit, tapi kalau berani lewat juga,’’ kata salah seorang pengendara yang tersangkut di ruas jalan itu.
Datangnya banjir bandang secara tiba-tiba ini tidak disangka warga. Beruntung arus air tidak begitu deras sehingga hanya merendam rumah, tidak sampai menghanyutkan.
Zulfitri (39), warga yang rumahnya terendam setinggi dua meter menyebutkan, baru pertama kali terjadi banjir yang sebesar ini terjadi di Singingi. Ini akibat air dari Sungai Lembu dari arah desa Logas ini meluap.
Ayah dua anak ini menuturkan, puncak banjir bandang ini terjadi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu rumahnya yang berada di dekat Sungai Lembu kemasukan air hingga lebih kurang 2 meter. Akibatnya, ia tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya. ‘’TV dan peralatan lainnya terendam banjir sekaligus. Apalagi yang mau kita selamatkan, semuanya sudah terendam,’’ ujarnya.
Ia menceritakan, banjir kali ini datang dengan mengeluarkan suara yang keras. Saat itu, ia sedang tidur bersama anak dan istrinya yang tengah hamil tua. Air masuk begitu cepat dan saat itu dirinya hanya berusaha untuk menyelamatkan istrinya dan kedua anaknya ke tempat yang lebih aman. Pada saat berusaha menyelamatkan orang-orang yang disayanginya itu, ia harus dihadapi dengan jalan lintas provinsi yang juga terendam setinggi 1 meter. Sehingga ia memilih menyelamatkan anak dan istrinya ke salah satu rumah makan yang tidak jauh dari rumahnya.
‘’Tak ada selamatkan apa-apa. Dan yang terpenting, bagaimana anak dan istri selamat. Ya, lebih kurang 2 jamlah air setinggi rata-rata 1 meter menggenangi jalan hingga membuat kendaraan tertahan, dari pukul 05.00 pagi,’’ ujarnya.
Zulfitri mengaku, hanya pakaian di badan yang bisa ia bawa bersama anak dan istrinya itu. Kini, semua pakaian dan peralatan lainnya sudah basah dan tidak tidak tahu bagaimana bentuk isi yang ada di dalam rumahnya. ‘’Sekarang air memang sudah mulai surut, tapi masih tinggi,’’ katanya.
Kepala Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan (Kopindag) Kuansing H Tarmis SPd MH yang tinggal di Kebun Lado dan setiap pagi melintas di jalan ini menuju Teluk Kuantan mengaku sempat tertahan selama dua jam.
‘’Tak bisa lewat, banjir sangat tinggi yang menggenang di jalan nasional di Muara Lembu. Mobil seperti Kijang Innova, sedan, Avanza tak bisa lewat, baru bisa lewat hampir pukul 09.00. Ini baru pertama kali banjir terjadi di sini,’’ kata Tarmis yang menghubungi Riau Pos, kemarin.
Camat Singingi, Zulkaneri SSos MSi yang dihubungi Riau Pos juga mengaku terkejut. Ia tidak mengira banjir akan terjadi cukup besar. Ia menduga banjir ini akibat rusaknya lingkungan. ‘’Inilah akibatnya kalau lingkungan sudah rusak,’’ katanya.
Informasi yang diterima Riau Pos, banjir ini melanda dua desa dan merendam sekitar 120 rumah. 65 rumah di Kelurahan Muara Lembu dan 55 unit rumah di Kebun Lado. Saat ini, warga yang menjadi korban banjir ini sudah disalurkan bantuan berupa mie instan, sarden dan susu. Hingga pukul 15.00 WIB, banjir sudah surut namun air sungai masih meluap, tapi tidak lagi merendam rumah warga.
‘’Bantuan yang disalurkan terdiri dari 55 kotak mie instan untuk Desa Kebun Lado dan 65 kotak mie instan untuk warga kelurahan Muara Lembu, ditambah 4 kotak Sarden,’’ ujar Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kuansing, Nopriman ST MT.
Sebelumnya, hujan mengakibatkan meluapnya Sungai Ili di Desa Koto Inuman namun tidak sampia merendam rumah warga.
Label:
Bencana Alam,
Unik
11.26.00
Logas terletak antara Pekanbaru dan Teluk Kuantan, sekitar 40 km dari Teluk Kuantan menuju Pekanbaru atau berada di kawasan Muara Lembu. Sebagian besar masyarakat di daerah Logas juga bekerja sebagai penambang emas tradisional.
Logas, " Tradisi Mendulang Emas " Di Kuansing
Warga sekitar Logas yang tengah mendulang emas secara tradisional
Nama logas tidak hanya dikenal sebagai tambang emas, tetapi juga terkenal dengan kerja paksa selama masa penjajahan Jepang. Logas yang penuh dengan batu batu dataran rendah yang menyimpan potensi emasnya.
Di antara bukit-bukit batu, Batang Singingi aliran sungai mengalir dengan jelas air yang memberikan tambahan nilai panorama alam yang indah.
Di Logas terdapat bekas rel kereta api dan lokomotif dengan kondisi rusak di hutan yang merupakan peninggalan zaman penjajahan Jepang dan Belanda.
Tempat ini juga jadi obyek wisata sejarah terkenal dan banyak wisatawan mancanegara yang telah mengunjunginya, terutama para wisatawan yang berasal dari Belanda dan Jepang dengan motivasi untuk bernostalgia.
Selain jadi area kerja paksa semasa zaman penjajahan Jepang, Logas juga jadi daerah untuk menampung tawanan-tawanan serdadu Jepang yang pernah menjajah Indonesia.
Tambang Emas Logas awalnya didirikan waktu zaman penjajahan Belanda. Tapi pada masa penjajahan Jepang perusahaan tambang itu diambil alih oleh Jepang hingga Indonesia merdeka tahun 1945.
Sampai sekarang masyarakat setempat masih melakukan penambangan emas secara tradisional. Dan ini menjadi kejadian unik yang membuat wisatawan penasaran untuk melihat proses pendulangan emas oleh masyarakat setempat.
Berkat keunikannya itulah, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi menjadikan Logas salah satu kawasan wisata unggulan dimana terdapat beberapa situs sejarah peninggalan zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Selain itu proses pendulangan emas secara tradisonal oleh masyarakat setempat juga jadi hal unik di Logas yang membuat wisatawan sangat tertarik berkunjung ke Kuansing.
Label:
Mata pencarian,
Tradisi,
Unik
16.57.00
“LEBIH DEKAT DENGAN BUPATI KUANTAN SINGINGI H. SUKARMIS” Pernah Gagal Jadi Kepala Desa, Namun Sukses Jadi Bupati
Written By SEDI SUGANDA on Selasa, 23 April 2013 | 16.57.00
Siapa yang tak kenal dengan sosok H. Sukarmis di Kabupaten Kuantan Singingi. Dia adalah Bupati dua periode di negeri yang terkenal dengan jalur ini. Ia dikenal oleh semua kalangan, Bahkan ia sukses menempatkan dirinya sebagaimotivator bagi anak muda di Kuansing dalam merengkuh cita-cita.
Pria kelahiran 1956 asal Kenegerian Sentajo ini dikenal suka bergaul dengan semua kalangan. Tidak peduli strata seseorang itu apa, Nanum Sukarmis selalumenjaga hubungan baiknya dengan semua orang. Sehingga wajar, dengan pergaulan yang telah dibinanya bertahun-tahun dengan semua pihak sukses mengantarkannya sebagai orang nomor satu di negeri ini.
Dibalik kesuksesannya memimpin Kabupaten Kuantan Singingi, Sukarmis meraihnya bukanlah dengan instan. Disamping suka bergaul, dirinya juga tidak enggan untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Ternyata, sebelum suami Hj Juita Alfis ini terjun ke dunia politik, Sukarmis pernah mencoba peruntungan untuk menjadi seorang kepala desa di salah satu desa yang ada di Sentajo. Keinginannya sangant kuat untuk menjadi kepala desa gagal didapatkannya.
Saya pernah gagal menjadi kepala desa, kalaulah saya jadi Kades, alangkah bagusnya riwayat hidup saya, tapi Allah berkehendak lain kepada saya,”kata Sukarmis di hadapan ratusan kepala desa di Balai Adat Teluk Kuantan, akhir pekan lalu. Kenapa Kepala Desa yang diinginkan Sukarmis ? Ia menjawab, tugas seorang kepala desa itu sangat mulia dan dekat rakyat. Lantas setelah gagal menjadi kepala desa, baru ia memilih dunia politik untuk bisa berbuat lebih banyak kepada masyarakat.
Di dunia politik, sukarmis aktif di Partai Golkar. Selama dua periode ia menjadi anggota DPRD Indragiri Hulu dan selama dua periode pula Sukarmis menjadi ketua DPRD di Indragiri Hulu dan Kuansing. Berbekal pengalaman dan pergaulan, Sukarmis ikut bertarung untuk merebut kursi Bupati Kuantan Singingi pada tahun 2006, dan ia sukses mendapatkannya. Sukarmis kecil memang tidak pernah bercita-cita jadi Bupati. ‘ Setelah saya tumbuh, saya memang bertekad harus membangun dan memajukan negeri saya, ujarnya.
Periode pertama, 2006-2011, memang tidak pernah berhenti membangun Kuansing. Sehingga Sukarmis dijuluki banyak kalangan sebagai Bapak Pembangunan. Sukses kepemimpinan pada periode pertama, menobatkan ia sebagai bupati pilihan rakyat yang kedua kalinya, pada pilkada 2011 lalu. Tentunya ia akan memimpin Kabupaten untuk ini hingga 2016 mendatang.
“ Dari kepala desa yang tidak jadi, sekarang saya jadi Bupati. Ini adalah hasil dari sebuah kerja keras selama ini. Jadi, bukan berarti saya tidak ada gagal. Itu tadi, saya pernah gagal jadi kepala desa di Sentajo, kata Bupati Kuantan Singingi ini. (Riau pos for Humas Kuantan Singingi)
16.08.00
Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).
Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.
Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.
Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.
“Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami yang tiap hari bekerja sebagai tukang foto dan penjual balon di sini. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang,” ujar Afrizal, salah seorang tukang potret amatir di sekitar Jam Gadang.
Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Jam Gadang.
Lebih Jauh Tentang Jam Gadang
Angka-angka pada Jam Gadang banyak media mengatakan memiliki keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII.
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.
Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih diliputi misteri.
Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih “menantang” dan menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang lainnya.
Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam tersebut selesai.
Jika dikaji apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini tampaknya perlu dikesampingkan.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Jam Gadang ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi ketika
Angka IIII bukanlah sebuah keanehan
Keberadaan angka IIII bukan hanya terdapat di Jam Gadang saja, berikut gambar jam yang memiliki angka IIII bukan IV.

Sumber gambar dapat dilihat di : http://www.electrictime.com/
Berdasarkan Wikipedia, sejarah penulisan angka IIII tersebut berdasarkan kepada King Louis XIV (5 September 1638 - 1 September 1715) yang meminta kepada seorang untuk membuat sebuah jam baginya. Pembuat jam memberi nomor pada setiap jam sesuai dengan aturan angka Romawi. Setelah melihat jam yang diberikan kepadanya, Raja tidak setuju dengan penulisan IV sebagai angka "4" dengan alasan ketidakseimbangan visual.
Menurutnya, angka VIII ada di seberang angka IV. Jika ditulis IV, maka ada ketidakseimbangan secara visual dengan VIII yang lebih berat. Oleh karena itu, Louis XIV meminta agar diubah IV menjadi IIII sehingga lebih seimbang dengan VIII yang ada di seberangnya. Selain itu, jika dikaitkan dengan angka XII, maka keseimbangan itu akan lebih baik.
Akan tetap yang menjadi pertanyaannya mengapa Raja yang memerintahkan perubahan itu lebih dikenal dengan Louis XIV daripada Louis XIIII, sesuai dengan permintaannya kepada pembuat jam.
Dari sebuah situs lain... yang berjudulkan "FAQ: Roman IIII vs. IV on Clock Dials" dapat dilihat disana, Seorang yang bernama Milham mengatakan bahwa penjelasan seperti di atas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penulisan IIII untuk angka "4" telah ada jauh sebelum Louis XIV. Dari wikipedia bahwa penomoran Romawi memang bervariasi dari awalnya. Pada masa awal angka "4" memang ditulis IIII dengan empat huruf I.
Penulisan "4" menjadi IV hanya terjadi di masa modern, yang menunjukkan bahwa "empat adalah kurang satu dari lima". Manuskrip Forme of Cury (1390) menggunakan IX untuk "9" namun IIII untuk "4". Sedangkan dokumen lain dari manuskrip yang sama di tahun 1380 menggunakan IX dan IV untuk "9" dan "4", berturut-turut.
Lebih lanjut, ada manuskrip ketiga yang menggunakan IX untuk "9" dan campuran antara IIII dan IV untuk "4". Angka "5" juga ditemukan disimbolkan dengan IIIII, IIX untuk "8" dan VV, bukannya X, untuk "10".
Kesaksian lain dari situs tersebut, Franks, menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat jam matahari yang dibuat sebelum abad ke-19 yang menggunakan angka IV, semuanya IIII. Sehingga, para ahli jam heran dengan arsitek masa ini yang membuat jam menara besar-besar menulis "4" dengan IV, bukan IIII. Salah satu yang menggunakan IV, bukan IIII, adalah Big Ben. Jadi, implisit dikatakan bahwa Big Ben telah melanggar konvensi per-jam-an!
Penjelasan lain cukup menarik. Harvey, di situs yang sama, mengatakan bahwa IV adalah singkatan dari dewa Romawi, Jupiter, yang ditulis IVPPITER. Jadi, jika IV diletakkan di dalam jam bangsa Romawi, maka jam itu akan bertuliskan 1, 2, 3, DEWA, 5...
Jika dilihat dari kacamata bangsa Romawi, mungkin mereka tidak ingin nama tuhan mereka ditaruh di jam seperti itu. Namun, kalau dilihat dari kacamata Louis XIV , maka mungkin ia tidak ingin ada nama dewa pagan di permukaan jam. Mana yang benar ? kita tidak tahu.
Masih di situs yang sama, menurut Mialki, alasan penggunaan IIII bukan IV semata-mata masalah teknis. Jika IV yang digunakan, maka pandai besi harus membuat huruf I sebanyak 16 batang, huruf X sebanyak 4 batang, dan V sebanyak 5 batang. Masalahnya, pada masa itu, pandai besi hanya bisa ekonomis kalau membuat besi dalam kelipatan empat. Jika ditulis IV untuk "4", maka akan ada satu 3 batang huruf V yang terbuang. Sementara itu, jika "4" ditulis IIII, maka huruf V hanya dibuat empat batang--dengan demikian ekonomis--dan huruf I sebanyak 20 batang--juga ekonomis.
Sekali lagi, mana yang benar dari penjelasan ini ? Belum ada yang pasti. Namun, satu yang kita tahu sekarang adalah bahwa angka IIII di Jam Gadang bukanlah sesuatu yang unik, aneh atau dianggap sebagai misteri yang dikait-kaitkan dengan takhayul. Justru dengan angka IIII itulah menjadikan sebuah bukti bahwa bangsa Eropa (Belanda) memang menjajah kita dulu dan tidak memberi kita barang yang jelek, justru yang bagus yang masih dipergunakan dan dibanggakan hingga sekarang.
Kenapa Angka 4 Romawi Jam Gadang Bukittinggi Bertuliskan IIII..?????
Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).
Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.
Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.
Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.
“Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami yang tiap hari bekerja sebagai tukang foto dan penjual balon di sini. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang,” ujar Afrizal, salah seorang tukang potret amatir di sekitar Jam Gadang.
Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Jam Gadang.
Lebih Jauh Tentang Jam Gadang
Angka-angka pada Jam Gadang banyak media mengatakan memiliki keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII.
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.
Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih diliputi misteri.
Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih “menantang” dan menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang lainnya.
Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam tersebut selesai.
Jika dikaji apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini tampaknya perlu dikesampingkan.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Jam Gadang ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi ketika
Angka IIII bukanlah sebuah keanehan
Keberadaan angka IIII bukan hanya terdapat di Jam Gadang saja, berikut gambar jam yang memiliki angka IIII bukan IV.
Sumber gambar dapat dilihat di : http://www.electrictime.com/
Berdasarkan Wikipedia, sejarah penulisan angka IIII tersebut berdasarkan kepada King Louis XIV (5 September 1638 - 1 September 1715) yang meminta kepada seorang untuk membuat sebuah jam baginya. Pembuat jam memberi nomor pada setiap jam sesuai dengan aturan angka Romawi. Setelah melihat jam yang diberikan kepadanya, Raja tidak setuju dengan penulisan IV sebagai angka "4" dengan alasan ketidakseimbangan visual.
Menurutnya, angka VIII ada di seberang angka IV. Jika ditulis IV, maka ada ketidakseimbangan secara visual dengan VIII yang lebih berat. Oleh karena itu, Louis XIV meminta agar diubah IV menjadi IIII sehingga lebih seimbang dengan VIII yang ada di seberangnya. Selain itu, jika dikaitkan dengan angka XII, maka keseimbangan itu akan lebih baik.
Akan tetap yang menjadi pertanyaannya mengapa Raja yang memerintahkan perubahan itu lebih dikenal dengan Louis XIV daripada Louis XIIII, sesuai dengan permintaannya kepada pembuat jam.
Dari sebuah situs lain... yang berjudulkan "FAQ: Roman IIII vs. IV on Clock Dials" dapat dilihat disana, Seorang yang bernama Milham mengatakan bahwa penjelasan seperti di atas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penulisan IIII untuk angka "4" telah ada jauh sebelum Louis XIV. Dari wikipedia bahwa penomoran Romawi memang bervariasi dari awalnya. Pada masa awal angka "4" memang ditulis IIII dengan empat huruf I.
Penulisan "4" menjadi IV hanya terjadi di masa modern, yang menunjukkan bahwa "empat adalah kurang satu dari lima". Manuskrip Forme of Cury (1390) menggunakan IX untuk "9" namun IIII untuk "4". Sedangkan dokumen lain dari manuskrip yang sama di tahun 1380 menggunakan IX dan IV untuk "9" dan "4", berturut-turut.
Lebih lanjut, ada manuskrip ketiga yang menggunakan IX untuk "9" dan campuran antara IIII dan IV untuk "4". Angka "5" juga ditemukan disimbolkan dengan IIIII, IIX untuk "8" dan VV, bukannya X, untuk "10".
Kesaksian lain dari situs tersebut, Franks, menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat jam matahari yang dibuat sebelum abad ke-19 yang menggunakan angka IV, semuanya IIII. Sehingga, para ahli jam heran dengan arsitek masa ini yang membuat jam menara besar-besar menulis "4" dengan IV, bukan IIII. Salah satu yang menggunakan IV, bukan IIII, adalah Big Ben. Jadi, implisit dikatakan bahwa Big Ben telah melanggar konvensi per-jam-an!
Penjelasan lain cukup menarik. Harvey, di situs yang sama, mengatakan bahwa IV adalah singkatan dari dewa Romawi, Jupiter, yang ditulis IVPPITER. Jadi, jika IV diletakkan di dalam jam bangsa Romawi, maka jam itu akan bertuliskan 1, 2, 3, DEWA, 5...
Jika dilihat dari kacamata bangsa Romawi, mungkin mereka tidak ingin nama tuhan mereka ditaruh di jam seperti itu. Namun, kalau dilihat dari kacamata Louis XIV , maka mungkin ia tidak ingin ada nama dewa pagan di permukaan jam. Mana yang benar ? kita tidak tahu.
Masih di situs yang sama, menurut Mialki, alasan penggunaan IIII bukan IV semata-mata masalah teknis. Jika IV yang digunakan, maka pandai besi harus membuat huruf I sebanyak 16 batang, huruf X sebanyak 4 batang, dan V sebanyak 5 batang. Masalahnya, pada masa itu, pandai besi hanya bisa ekonomis kalau membuat besi dalam kelipatan empat. Jika ditulis IV untuk "4", maka akan ada satu 3 batang huruf V yang terbuang. Sementara itu, jika "4" ditulis IIII, maka huruf V hanya dibuat empat batang--dengan demikian ekonomis--dan huruf I sebanyak 20 batang--juga ekonomis.
Sekali lagi, mana yang benar dari penjelasan ini ? Belum ada yang pasti. Namun, satu yang kita tahu sekarang adalah bahwa angka IIII di Jam Gadang bukanlah sesuatu yang unik, aneh atau dianggap sebagai misteri yang dikait-kaitkan dengan takhayul. Justru dengan angka IIII itulah menjadikan sebuah bukti bahwa bangsa Eropa (Belanda) memang menjajah kita dulu dan tidak memberi kita barang yang jelek, justru yang bagus yang masih dipergunakan dan dibanggakan hingga sekarang.
_____________________________________________________________________________________________
Potret Jam Gadang Kota Bukittinggi dari masa ke masa yang diabadikan oleh komunitas Panoramio.com
Post by : sedi suganda, 21 Maret 2011

Posted by : sedi suganda





Post by : sedi suganda, 21 Maret 2011
Posted by : sedi suganda
Label:
Objek Wisata,
Sejarah,
Sosial Budaya,
Unik